2.1.1.
Motivasi
2.1.1.1.
Pengertian Motivasi
Suatu motif
didefinisikan sebagai kesiapan dorongan khusus dari seseorang/individu untuk
melakukan atau melanjutkan serangkaian kegiatan atau yang ditujukan untuk
mencapai beberapa sasaran yang telah ditentukan. Kesiapan ini dapat
direfleksikan dalam suatu kebutuhan keinginan serta hasrat pegawai tersebut.
Sedangkan kebutuhan dan keinginan juga dapat direfleksikan sesuatu yang
dipuaskan berupa emosi yang positif untuk sesuatu. Setiap individu memiliki
perpaduan motif yang unik yang seolah-olah tampaknya diatur dalam pola hirarki.
Sementara motif juga berkaitan dengan karakteristik yang menggambarkan
kepribadian yang relatif stabil.
Motivasi akan
dapat dipenuhi dengan beberapa faktor kerumitan karena alasan-alasan sebagai
berikut : tindakan tunggal dan bisa mengekpresikan beberapa motif, motif bisa
muncul dalam bentuk yang samar, beberapa motif bisa diekpresikan melalui
tindakan yang serupa, motif-motif yang sama, bisa diekpresikan dalam
perilaku-perilaku yang berbeda, variasi-variasi budaya dan perorangan bisa
sangat dipengaruhi cara mengekpresikan motif-motif tertentu. Dari faktor ini
dapat dilihat bahwa terjadinya tingkah laku, karena adanya motif. Jadi meskipun
ada kebutuhan, tetapi kalau kebutuhan tersebut tidak dapat menciptakan motif
maka tidak akan terjadi tingkah laku.
Tingkah laku
seseorang akan ditentukan oleh hasrat yang cenderung bekerja analog dengan
kenyataan-kenyataan. Dari sisi lain juga diartikan bahwa tingkah laku seseorang
adalah didorong oleh energi dasar (instink) yang merupakan suatu kegiatan
sebagai berikut : instink kehidupan atau dorongan untuk mempertahankan hidup,
setiap individu biasanya mempunyai kelompok kebutuhan, hasrat dan harapan yang
bukan hanya mengubah, tetapi juga menimbulkan konflik antara yang satu dengan
yang lain. Perbedaan besar muncul diantara individu-individu dalam hal cara
mereka memilih motif-motif tertentu diantara motif-motif lainnya. Pencapaian
sasaran-sasaran tertentu lainnya bisa menimbulkan kenaikan dalam intensitas
beberapa motif.
Motivasi berasal dari kata latinmovere
yang berarti dorongan atau daya penggerak. Motivasi ini
diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut
(Hasibuan, 1996). Menurut Koeswara (1989) motivasi juga merupakan proses
psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan
keputusan yang terjadi dalam diri seseorang.
Motivasi adalah dorongan dan usaha untuk
memenuhi atau memuaskan suatukebutuhan.Tegangan dari dalam diri individu
merupakan penyebab timbulnyamotivasi dan perilaku yang termotivasi bertujuan
untuk mengurangi tegangantersebut.
Robbin (2002:55) mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan
untuk melakukan sebagai kesediaanuntuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi
untuk tujuan-tujuan kerja, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya ituuntuk
memenuhi suatu kebutuhan individual.Siagian (2002:94) mengemukakan bahwa dalam
kehidupan berkerja,termasuk kehidupan berkarya dalam kerja bisnis, aspek
motivasi kerja mutlak mendapat perhatian serius dari para manajer.Karena 4
(empat) pertimbangan utama yaitu: (1) Filsafat hidup manusia berkisar pada
prinsip “quit pro quo”, yang dalambahasa awam dicerminkan oleh pepatah
yang mengatakan “ada ubi ada talas, ada budi ada balas”, (2) Dinamika
kebutuhanmanusia sangat kompleks dan tidak hanya bersifat materi, akan tetapi
juga bersifat psikologis, (3) Tidak ada titik jenuhdalam pemuasan kebutuhan
manusia, (4) Perbedaan karakteristik individu dalam kerja atau organisasi,
mengakibatkantidak adanya satupun teknik motivasi yang sama efektifnya untuk
semua orang dalam kerja juga untuk seseorang padawaktu dan kondisi yang
berbeda-beda.
Menurut. Mathis,
Jackson (2002) motivasi merupakan hasrat di dalam seseorang yang menyebabkan
orang tersebut melakukan tindakan. Seseorang sering melakukan tindakan untuk
suatu hal : mencapai tujuan. Maka, motivasi merupakan penggerak yang
mengarahkan pada tujuan. Kata-kata butuh, ingin, hasrat dan penggerak semuanya
sama dengan motive, yaitu asalnya kata motivasi. Mengerti motivasi
merupakan hal penting karena kinerja, reaksi terhadap kompensasi dan perhatian
sumber daya manusia lainnya berhubungan dengan motivasi tersebut.
Soegiri (2004:27-28) dalam Antoni (2006:24) mengemukakan
bahwapemberian dorongan sebagai salah satu bentuk motivasi, penting dilakukan
untuk meningkatkan gairah kerja karyawansehingga dapat mencapai hasil yang
dikehendaki oleh manajemen.
Motivasi
melibatkan keuletan dan ketekunan, mengartikan usaha yang keras untuk mencapai
sesuatu. Motivasi merupakan suatu sistem yang dipengaruhi oleh tiga faktor:
karakteristik individu, karakteristik pekerja, karakteristik situasi kerja.
Dalam hal ini situasi kerja terdiri dari lingkungan kerja, dan tindakanorganisasi
sebagai keseluruhan.
Menurut
Heidjrachman Ranupandoyo (2004) mengatakan bahwa motivasi merupakan proses
untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang kita inginkan.
Jadi motivasi merupakan rangkaian dorongan yang menyebabkan seseorang bertindak
dan berperilaku untuk mencapai tujuan. Dengan memberikan rangsangan eksternal
berupa bonus, gaji yang lebih baik, fasilitas yang semakin baik sejalan dengan
perkembangan organisasi, maka motivasi memberikan dorongan untuk berprestasi
lebih baik.
Moekijat (1990), mengemukakan bahwa motivasi merupakan setiap
perasaan atau keinginan yang sangat mempengaruhi kemauan orang, sehingga
individu didorong untuk bertindak.Nasution (2000), mengartikan motivasi sebagai
alat pembangkit, penguat dan penggerak seorang karyawan yang diarahkan untuk
mencapai tujuan dan hasil.
Wursanto (1995), berpendapat bahwa motivasi adalah
alasan-alasan, dorongan-dorongan yang ada dalam diri manusia yang menyebabkan
ia melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu. Motivasi merupakan keinginan, hasrat
dan tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri manusia untuk berbuat
sesuatu.Motivasi timbul karena dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik.Faktor intrinsik adalah faktor dari dalam diri manusia, yang dapat
berupa sikap, kepribadian, pendidikan, pengalaman, pengetahuan dan cita-cita.
Sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia,
faktor ini dapat berupa gaya kepemimpinan dari seorang atasan, dorongan atau
bimbingan dari seseorang, perkembangan situasi dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa motivasi adalah dorongan atau keinginan yang timbul dari dalam dan dari
luar diri manusia, yang sangat mempengaruhi manusia tersebut untuk mencapai
tujuan, baik tujuan individu maupun tujuan organisasi
Ada tiga
pendekatan terhadap motivasi yaitu :1). Pendekatan tradisional, 2). Pendekatan
hubungan manusiawi (human relation),3). Pendekatan Human Resource
Management. (Mamduh M,Hanafi, 1997). Pendekatan tradisional, motivasi
seseorang didorong oleh keinginannya untuk memperoleh gaji/uang. Uang membuat
seseorang bekerja atau berperilaku. Manajer diangap lebih tahu dibandingkan
dengan pegawai. Pegawai pada umumnya malas, tidak mau bekerja. Tetapi setelah
didorong dengan insentif uang, pegawai mau bekerja. Pendekatan human relation
mengatakan bahwa motivasi seseorang didorong oleh keinginannya untuk
berinteraksi dengan orang lain. Pendekatan human resource management,
mengatakan bahwa kepentingan pegawai harus diperhatikan. Menurut pendekatan ini
pekerjaan itu sendiri dapat memberi motivasi terhadap pegawai.
2.1.1.2.
Jenis Motivasi
Menurut Djamarah (2002) motivasi terbagi menjadi 2 (dua) jenis
yaitumotivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
1) Motivasi intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif
yangmenjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karenadalam
setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.Motivasi
intrinsik datang dari hati sanubari umumnya karena kesadaran,misalnya ibu
membawa balita ke posyandu karena ibu tersebut sadar bahwa dengan membawa
balita ke posyandu maka balita akanmendapatkan pelayanan kesehatan seperti
imunisasi dan pelayanankesehatan untuk balita lainnya.
Menurut Taufik (2007), faktor-faktor yang mempengaruhimotivasi
intrinsik yaitu :
a) Kebutuhan (need)
Seseorang
melakukan aktivitas (kegiatan) karena adanya faktor-faktorkebutuhan baik
biologis maupun psikologis.
b)
Harapan (Expectancy)
Seseorang
dimotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapankeberhasilan bersifat pemuasan
diri seseorang, keberhasilan dan hargadiri meningkat dan menggerakkan seseorang
ke arah pencapaiantujuan.
c) Minat
Minat
adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal tanpa ada yang
menyuruh.
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi
ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.Motivasi ekstrinsik adalah
motif-motif yang aktif dan berfungsi karenaadanya perangsang atau pengaruh dari
orang lain sehingga seseorangberbuat sesuatu (Djamarah, 2002)
Menurut
Taufik (2007), faktor-faktor yang mempengaruhimotivasi ekstrinsik adalah :
a)
Dorongan keluarga
b)
Lingkungan
Lingkungan adalah tempat dimana seseorang
tinggal.Lingkungandapat mempengaruhi seseorang sehingga dapat termotivasi
untukmelakukan sesuatu.Selain keluarga, lingkungan juga mempunyaiperan yang
besar dalam memotivasi seseorang dalam merubah tingkahlakunya. Dalam sebuah
lingkungan yang hangat dan terbuka, akanmenimbulkan rasa kesetiakawanan yang
tinggi.
c)
Imbalan
Seseorang dapat termotivasi karena adanya
suatu imbalan sehinggaorang tersebut ingin melakukan sesuatu.
2.1.1.3.
Teori Motivasi
Teori motivasi ada 6 (enam) yaitu:
1.
Teori Kebutuhan dari Abraham H.
Maslow
Inti dari teori maslow adalah bahwa
kebutuhan manusia tersusun dari suatuhirarki. Tingkat kebutuhan yang paling
rendah adalah kebutuhan fisiologis danyang paling tinggi adalah kebutuhan
aktualisasi diri.
Robbins and Judge (2008) digambarkan dalam
suatu hirarki limakebutuhan dasar manusia menurut Maslow, yaitu:
1) Kebutuhan fisiologis (Physiologocal needs), meliputi rasa lapar, haus,berlindung,
seksual dan kebutuhan fisik lainnya.
2) Kebutuhan keamanan dan keselamatan kerja (Security or safety needs),meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya
fisik dan emosional.
3) Kebutuhan sosial (Affiliation or acceptance needs), meliputi rasa kasihsayang, kepemilikan,
penerimaan dan persahabatan.
4) Kebutuhan penghargaan (Esteem needs), meliputi penghargaan internalseperti
hormat diri, otonomi dan pencapaiannya serta faktor-faktorpenghargaan eksternal
seperti status pengakuan dan perhatian.
5) Kebutuhan aktualisasi diri (Needs for self actualization), dorongan untukmenjadi seseorang sesuai
kecakapannya meliputi pertumbuhan, pencapaianpotensi seseorang dan pemenuhan
diri sendiri.
Maslow mengasumsikan bahwa orang berusaha memenuhi kebutuhanyang
lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku kearah kebutuhanyang paling
tinggi (self
actualization).Apabila kebutuhan seseorang (pegawai) sangat kuat, maka semakin kuat pula motivasi
orang tersebut menggunakanperilaku yang mengarah pada pemuasan kebutuhannya.
Teori Maslow merupakan penjelasan mutlak tentang semua
perilakumanusia, tetapi lebih merupakan suatu pedoman umum bagi manajer
untukmemahami orang-orang berperilaku.
2.
Teori Motivasi Kesehatan dari
Frederick Herzberg.
Herzberg (dalam Notoatmodjo, 2009)
mengembangkan 2 (dua) faktor teorimotivasi yang mempengaruhi seseorang dalam
tugas atau pekerjaannya, yaitu“dissatisfiersdan satisfiers atau hygiene dan motivator atau extrinsic factors daninstrinsic factors”’ pengertian dari masing-masing kebutuhan
adalah sebagai berikut:
1) Satisfiers atau motivators atau
instrinsic factors meliputi kebutuhanpsikologis seseorang, yaitu serangkaian
kondisi instrinsik. Apabila kepuasankerja dicapai dalam pekerjaan, maka akan
menggerakkan tingkat motivasiyang kuat bagi seorang pegawai dan akhirnya dapat
menghasilkan prestasiyang tinggi. Faktor kepuasan (satisfiers) mencakup antara lain prestasi,penghargaan,
tanggung jawab, kesempatan untuk maju serta pekerjaan itusendiri.
2) Dissatisfiers atau hygiene atau
extrinsic factors meliputi kebutuhan akanpemeliharaan (maintenance factor) yang merupakan hakikat manusia yangingin
memperoleh kesehatan badaniah. Hilangnya faktor-faktor ini akanmenimbulkan
ketidakpuasan bekerja. Faktor hygiene yang menimbulkanketidakpuasan kerja antara lain kondisi fisik,
hubungan interpersonal,keamanan kerja, gaji, pengawasan serta kebijakan dan
administrasi instansi.
Dari teori
Herzberg ini terdapat kesimpulan bahwa Pertama, faktor-faktoryang dapat meningkatkan atau
memotivasi pegawai dalam meningkatkanprestasinya adalah kelompok faktor-faktor
kepuasan (satisfiers).Kedua, perbaikangaji, kondisi kerja, kebijakan
organisasi dan administrasi tidak akan menimbulkankepuasan melainkan
menimbulkan ketidakpuasan, sedangkan faktor yangmenimbulkan kepuasan adalah
hasil kerja itu sendiri. Ketiga, perbaikan faktorhygiene kurang dapat mempengaruhi terhadap sikap kerja yang positif.
3.
TeoriPrestasi dari David McClelland
McMlelland (dalam Trisnawati S, 2005) membagi tiga kebutuhan
pokokyang berhubungan dengan perilaku pegawai dalam instansi, yaitu:
1) Kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement atau N-Ach). McClellandmengemukakan bahwa seseorang
yang memiliki kebutuhan untuk berprestasiyang tinggi (N-Ach tinggi) memiliki karakteristik sebagai orang
yangmenyukai pekerjaan yang menantang, beresiko, serta menyukai adanyatanggapan
atas pekerjaan yang dilakukannya. Sebaliknya, seseorang yangmemiliki kebutuhan
untuk berprestasi yang rendah (N-Ach rendah) cenderungmemiliki karakteristik sebaliknya. Lebih jauh lagi,
McClelland menemukanindikasi bahwa kebutuhan untuk berprestasi memiliki
korelasi yang eratdengan pencapaian kinerja. Artinya sebuah instansi yang
memiliki orang-orangyang berN-Ach tinggi, maka akan memiliki kinerja yang tinggi, adapunsebuah
instansi yang memiliki orang-orang yang berN-Ach rendah akancenderung memiliki kinerja yang
rendah pula.
2) Kebutuhan untuk berafiliasi (need for affiliation atau N-Aff). McClellandmenjelaskan bahwa sekalipun
seseorang dapat melakukan komunikasi daninteraksi yang lebih cepat dan hemat
melalui kemajuan teknologi sepertitelepon serta berbagai alat telekomunikasi
lainnya (kini ada teleconferencingdan
sejenisnya), kebutuhan akan berinteraksi sosial tetap menjadi sesuatu yangtidak
bisa dihilangkan artinya seseorang tetap memiliki kebutuhan akaninteraksi
sosial. Berdasarkan pandangan ini pula, itu sebabnya sebagianmasyarakat
barangkali masih sulit menerima proses-proses seperti onlinelearning,distance learning,
online-interaction dan sejenisnya sebagai metodepembelajaran, pendidikan dan juga
bekerja. Bukan karena tidak dapatdiselesaikannya pekerjaan melalui media
seperti itu, akan tetapi kebutuhanakan interaksi sosial (seperti kebutuhan
untuk diperhatikan, disayangi danlain-lain) ternyata tidak dapat digantikan
oleh media-media berbasis informasitersebut.
3) Kebutuhan akan kekuasaan (need for power atau N-Pow). McClellandmemandang bahwa kebutuhan ini
terkait dengan tingkatan dari seseorangdalam melakukan kontrol atas situasi dan
lingkungan yang dihadapinya. Halini terkait dengan apa yang dinamakan sebagai
kesuksesan dan kegagalan bagiseseorang. Kekhawatiran akan kegagalan bagi
seseorang barangkali dapatmenjadi dorongan motivasi yang sukses, sebaliknya
bagi yang lain, begitupula kekhawatiran terhadap kesuksesan mungkin merupakan
doronganmotivasi baginya.
4.
Teori Kebutuhan dari Alderfer.
Alderfer (dalam Koonts et al, 1996)
mengajukan sebuah variasi dari teorimotivasi hirarki kebutuhan Maslow. Teori
Alderfer dan penelitian yang mendukungnya menemukan ERG yaitu E = Existency needs, R = Relatedness needs, G = Growth needs. Maksud kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah
sebagaiberikut:
1) Kebutuhan keberadaan (Existency needs) mencakup seluruh bentuk hasratmaterial dan
fisiologis dengan segala variasinya seperti makanan, air, gaji dankondisi
kerja.
2) Kebutuhan berhubungan (Relatedness needs) mencakup kebutuhan untukberhubungan dengan
orang lain seperti dengan keluarga, atasan, bawahan,kawan atau lawan.
3) Kebutuhan pertumbuhan (Growth needs) adalah kebutuhan-kebutuhan yangmendorong
seseorang untuk memiliki pengaruh yang kreatif atau produktifterhadap diri
sendiri atau lingkungan.
5.
Teori X dan Y dari Mc Gregor
Mcgregor (dalam Irawan.dkk, 2002) membagi motivasi manusia
dengan 2(dua) asumsi, yang dikenal dengan teori X dan teori Y. Kedua teori ini
secarakualitatif berbeda dalam memandang perilaku manusia dan mengarahkan
perilakukepemimpinan, kebijakan serta praktek sumber daya manusia.
Asumsi dasar teori X adalah bahwa rata-rata manusia tidak
menyukai kerjadan harus dipaksa, diawasi serta harus dituntun untuk
menghasilkan atau tujuanorganisasi.Menurut teori X kebanyakan manusia
menyediakan dirinya untukdiperlakukan seperti itu, karenanya mereka dapat menghindar
dari tanggungjawab.
Asumsi perilaku kebanyakan manusia atau pegawai menurut teori
Xadalah:
a) Malasdan tidak suka bekerja.
b) Tidak mempunyai ambisi mencapai prestasi
optimal dan selalu menghindardari tanggung jawab.
c) Lebih senang dibimbing, diperintah, diawasi
dan diancam.
d) Karyawan lebih mementingkan diri sendiri dan
tidak memperdulikan tujuanorganisasi.
Sedangkan teori Y berasumsi sebaliknya.Menurut teori Y,
rata-ratamanusia pada hakekatnya tertarik pada pekerjaannya tertarik pada pekerjaannya,berhasrat
untuk membimbing dirinya secara langsung dan bertanggung jawab,serta berkreasi
memecahkan permasalahan sesuai dengan kapasitasnya. Denganperkataan lain, teori
Y menyatakan bahwa manusia dapat belajar bertanggungjawab serta memiliki
kreativitas dan kecerdikan rata-rata manusia atau pegawaimenurut teori Y
adalah:
a) Karyawanrajin dan senang bekerja.
b) Karyawan bertanggung jawab dan berambisi
mencapai prestasi optimal.
c) Karyawan selalu berusaha mencapai sasaran
organisasi denganmengembangkan dirinya.
6.
Teori Harapan dari Victor H.Vroom
Vroom (dalam Hasibuan, 2001) menyatakan bahwa kekuatan yangmemotivasi
seseorang untuk bekerja giat dalam mengerjakan pekerjaannyatergantung dari
hubungan timbal balik antara apa yang diinginkannya dandibutuhkan dari hasil
pekerjaan itu.
Berapa besar pegawai yakin instansi akan memberikan pemuasan
bagikeinginannya sebagai imbalan atas usaha yang dilakukan itu. Jika keyakinan
yangdiharapkan cukup besar untuk memperoleh kepuasannya maka ia akan
bekerjakeras pula begitupun sebaliknya.
Teori harapan ini didasarkan atas:
1) Harapan (expectancy) adalah suatu kesempatan yang diberikan
akan terjadikarena perilaku. Harapan mempunyai nilai yang berkisar antara nol
sampaipositif satu. Harapan nol menunjukkan bahwa tidak ada kemungkinan
sesuatuhasil akan muncul sesudah perilaku atau tindakan tertentu
dilakukan.Sedangkan harapan positif satu menunjukkan kepastian bahwa hasil
tertentuakan muncul mengikuti suatu tindakan atau perilaku yang telah
dilakukan.Harapan ini dinyatakan dalam kemungkinan (probabilitas).
2) Nilai (valence) adalah akibat dari perilaku tertentu
mempunyai nilai ataumartabat tertentu (daya atau nilai motivasi) bagi setiap
individu bersangkutan.Misalnya, peluang untuk dipindahkan ke posisi dengan gaji
yang lebih besardi tempat lain, mungkin mempunyai nilai bagi orang yang
menghargai uangatau orang yang menikmati nilai rangsangan dari lingkungan baru;
tetapimungkin mempunyai nilai (valensi) rendah bagi orang lain yang
mempunyaiikatan kuat dengan kawan, tetangga dan kelompok kerjanya. Valensi iniditentukan
oleh individu dan tidak merupakan kualitas obyektif dari akibat itusendiri.
Pada suatu instansi tertentu, valensi itu berbeda bagi satu orang keorang lain.
Suatu hasil mempunyai valensi positif, apabila dipilih dan lebihdisegani,
tetapi sebaliknya mempunyai valensi negatif jika tidak dipilih dandisegani.
Suatu hasil mempunyai nilai (valensi) nol, jika orang acuh tidakacuh untuk
mendapatkannya.
3)
Pertautan (instrumentality) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkatpertama
akan dihubungkan dengan hasil tingkat kedua. Victor H. Vroommengemukakan bahwa
pertautan dapat mempunyai nilai yang berkisar nol danminus satu. Hasil valensi
minus satu (-1) menunjukkan persepsi bahwatercapai tingkatan tingkat kedua
adalah pasti tanpa hasil tingkat pertama. Dantidak mungkin timbul dengan
tercapainya hasil
Tingkat pertama (+1) menunjukkan bahwa hasil tingkat pertama
itu perlu dansudah cukup untuk menimbulkan hasil tingkat kedua.Karena hal
inimenggambarkan suatu gabungan (asosiasi) maka instrumentality dapat dipikirkansebagai pertautan
(korelasi).
2.1.1.4.
Tujuan Motivasi
Secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan
ataumenggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk
melakukansesuatu sehingga dapat memperoleh hasil dan mencapai tujuan
(Taufik,2007).
Setiap tindakan motivasi seseorang mempunyai tujuan yang
akandicapai. Makin jelas tujuan yang diharapkan atau akan dicapai, maka
semakinjelas pula bagaimana tindakan memotivasi itu dilakukan.
Tindakanmemotivasi akan lebih dapat berhasil apabila tujuannya jelas dan
didasarioleh yang dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan
memberikanmotivasi pada seseorang harus mengenal dan memahami benar-benar
latarbelakang kehidupan, kebutuhan, serta kepribadian orang yang akandimotivasi
(Taufik, 2007).
2.1.1.5.
Faktor-faktor Motivasi
Seperti yang telah diuraikan di atas, faktor-faktor motivasi
menurut
Maslow terdiri dari:
1) Kebutuhan
Fisiologis
Winardi (2004) mengatakan bahwa seorang
individu yang tidak memilikiapa-apa dalam kehidupan mungkin sekali akan termotivasi
oleh kebutuhan-kebutuhan fisiologikal.
Trisnawati S (2005) mengemukakan bahwa
kebutuhan paling dasar darimanusia yang akan memotivasi mereka untuk bekerja
adalah kebutuhanfisiologikal. Kebutuhan ini akan terpenuhi manakala seseorang
mendapatkan upahminimum yang mereka kehendaki, lingkungan pekerjaan yang nyaman
dan lokasiyang penuh dari polusi.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
seseorang bekerja adalahuntuk mendapatkan penghasilan yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhanpokok hidupnya.Selain itu upah atau gaji merupakan dorongan
agar orang bekerja dengan semangat.
2)
Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Kerja
Trisnawati S (2005) mengemukakan bahwa
kebutuhan keamanan bukansekedar untuk merasa aman dari berbagai gangguan fisik
maupun mental, akantetapi juga perasaan aman akan ketidakpastian di masa yang
akan datang.
Misalnya rencana pascapensiun dari pekerjaan
dan tunjangan di hari tua.Gibson et al (1996) mengatakan bahwa kebutuhan untuk
keselamatan danjaminan lingkungan fisik serta emosional dan kebebasan dari
ancaman yaitu untukkebebasan dari kekerasan dan untuk terciptanya masyarakat
yang tertib. Dalam instansi adalah kebutuhan keselamatan merefleksikan akan
keselamatan kerja,tunjangan tambahan dan jaminan kerja.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa keamanan dankeselamatan kerja adalah suatu kondisi di mana para pegawai
merasa aman dantentram, bebas dari rasa takut akan penghidupan di masa yang
akan datang,adanya jaminan akan pekerjaannya bila terjadi sesuatu atas dirinya.
3)
Kebutuhan Sosial
Koonts et al (1996) berpendapat bahwa karena
manusia adalah mahluksosial, mereka membutuhkan pergaulan dengan orang lain dan
untuk diterimasebagai bagian dari yang lain.
Trisnawati S (2005) mengemukakan bahwa
kebutuhan untuk berinteraksidan diterima oleh lingkungan sosial. Kebutuhan ini
dapat terpenuhi melaluipenciptaan kondisi yang memungkinkan para pegawai untuk
berinteraksi satusama lain dalam pekerjaannya secara lebih fleksibel dan
terbuka.
Dari kedua pendapat di atas, dapat
dikemukakan bahwa kebutuhan sosialyaitu kebutuhan akan rasa cinta dan kepuasan
dalam menjalin hubungan denganorang lain, kepuasan dan perasaan memiliki serta
diterima dalam suatu kelompokdengan rasa kekeluargaan, persahabatan dan kasih
sayang.
4)
Kebutuhan Penghargaan
Gibson et al (1996) mengatakan bahwa
kebutuhan ini berhubungan denganhasrat untuk memiliki kesan positif dan
menerima perhatian, pengakuan danapresiasi dari orang lain. Dalam instansi,
kebutuhan penghargaan merefleksikanmotivasi untuk pengakuan, peningkatan
tanggung jawab, status yang tinggi danpenghargaan bagi kontribusi pada
instansi.
Winardi (2004) mengatakan bahwa keinginan
atau hasrat kompetitif untukmenonjol dan melampaui prestasi orang-orang lain
boleh dikatakan sebuah sifatuniversal manusia. Kebutuhan pokok akan penghargaan
ini apabila dimanfaatkan secara tepat dapat timbulnya prestasi instansi yang
luar biasa.
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat
dikatakan bahwa kebutuhan
pengahargaan adalah merupakan pemberian penghargaan oleh
pimpinan atasprestasi kerja dalam menjalankan pekerjaanya. Dan pemenuhan
kebutuhanpenghargaan ini dapat tercermin dari adanya pemberian pujian,
kepercayaan dan tanggung jawab.
5) Kebutuhan
Aktualisasi Diri
Winardi (2004) mengatakan bahwa kebutuhan
individu untuk merealisasipotensi yang ada pada dirinya untuk mencapai
pengembangan diri secaraberkelanjutan dan untuk menjadi kreatif dalam arti kata
seluas-luasnya.
Trisnawati S (2005) mengemukakan bahwa
kebutuhan untuk menempatkan diri individu dalam lingkungan dan untuk
pengembangan diri.Kebutuhan ini dapat berupa adanya tuntutan untuk pengembangan
karier yangjelas, pekerjaan menantang dan terpenuhi melalui pemberian promosi
bagipegawai yang menunjukkan prestasi atau melalui keterlibatan sesering
mungkinpegawai dalam berbagai proyek atau kegiatan yang memiliki tantangan.
Dengan dapat disimpulkan bahwa aktualisasi
diri adalah merupakankebutuhan untuk mewujudkan kemampuan serta mengembangkan
diri pegawaiyang bersangkutan di tempat di mana ia bekerja serta kesempatan
untukmendapatkan promosi.
2.1.1.6.
Unsur-Unsur Motivasi
Menurut Sardiman (2007), motivasi mengandung tiga unsur
penting,yaitu :
1) Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan
energi pada diri setiapindividu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa
beberapaperubahan energi di dalam sistem neurophysiological yang ada
padaorganisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia,penampakannya
akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2) Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa “feeling”,
afeksi seseorang.Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan
kejiwaan,afeksi dan emosi yang dapat menentukan perubahan tingkah lakumanusia.
3) Motivasi akan dirangsang karena adanya
tujuan. Jadi motivasi dalam halini sebenarnya merupakan respons dari suatu
aksi, yakni tujuan. Motivasimemang muncul dari dalam dari diri manusia, tetapi
kemunculannyakarena terangsang / terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal
iniadalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan yang akandicapai
oleh orang tersebut.
Menurut Taufik (2007), motivasi mengandung tiga komponen pokok
di dalamnya, yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan menopang
tingkah lakumanusia.
1) Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan
pada individu; memimpinseseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalnya
kekuatan dalamhal ingatan, respons-respons efektif, dan kecenderungan
mendapatkankesenangan.
2) Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan
tingkah laku. Dengandemikian seseorang menyediakan suatu orientasi tujuan.
Tingkah lakuseorang individu diarahkan terhadap sesuatu.
3) Untuk menjaga dan menopang tingkah laku,
lingkungan sekitar harusmenguatkan (reinforce) intensitas dan arah
dorongan-dorongan dankekuatan-kekuatan individu.
2.1.1.7.
Fungsi Motivasi
Menurut Notoatmodjo (2007), motivasi mempunyai 3 (tiga)
fungsiyaitu :
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi
sebagai penggerak atau motoryang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini
merupakan motorpenggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah
tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan
kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan yang sudah
direncanakan sebelumnya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan
perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan,
dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut. Pilihan perbuatan yang sudah ditentukan atau dikerjakan akan
memberikan kepercayaan diri yang tinggi karena sudah melakukan proses
penyeleksian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar