2.1.1.
Kepemimpinan
2.1.1.1.
Defenisi Kepemimpinan
Kegiatan manusia
secara bersama-sama selalu membutuhkan kepemimpinan. Jadi harus ada pemimpin
demi sukses dan efisiensi.
Teori kepemimpinan
adalah “Penggeneralisasian satu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep
kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab musabab
timbulnya kepemimpinan, persyaratan menjadi pemimpin, sifat utama pemimpin,
tugas pokok dan fungsinya, serta profesi kepempimpinan”.
Menurut Davis
(2000: 282) kepemimpinan “Adalah kemampuan untuk mempengaruhi (membujuk)
orang-orang lain untuk mencapai tujuan dengan antusias”. Dengan perkataan lain,
kepemimpinan merupakan faktor manusiawi yang mengikat sebagai suatu kelompok
bersama dan memotivasi mereka dalam pencapaian tujuan. Kepemimpinan mengubah
sesuatu yang potensial menjadi kenyataan. Oleh karena itu, kepemimpinan sangat
diperlukan bila suatu organisasi ingin sukses. Terlebih lagi bagi
bawahan-bawahan yang baik selalu ingin tahu bagaimana mereka dapat menyumbang
dalam pencapaian tujuan organisasi, dan paling tidak gairah kerja para bawahan
memerlukan kepemimpinan sebagai dasar motivasi eksternal untuk menjaga
tujuan-tujuan mereka tetap harmonis dengan tujuan organisasi.
Menurut Friska
(2004:1) “Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik
dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, bawahan dipimpin dari
bukan dengan jalan menyuruh atau mendorong dari belakang”. Artinya seorang
pemimpin selalu melayani bawahannya lebih baik dari bawahannya tersebut
melayani dia. Pemimpin memadukan kebutuhan dari bawahannya dengan kebutuhan
organisasi dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhannya.
Rivai
(2005:2), definisi kepemimpinan secara luas, Adalah
“meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi
interprestasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian
dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama
dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar
kelompok atau organisasi”.
Gibson (2003: 68) mengatakan bahwa :
“Kepemimpinan adalah upaya menggunakan berbagai jenis
pengaruh yang bukan paksaan untuk memotivasi anggota organisasi agar mencapai
tujuan tertentu. Jadi kepemimpinan pada dasarnya memotivasi berarti harus
dilakukan sebagai kegiatan mendorong anggota organisasi untuk melakukan
pekerjaan/kegiatan tertentu yang tidak memaksa dan mengarah pada tujuan”.
Kegiatan mendorong
tersebut sebagaimana telah diketengahkan di atas, adalah usaha menumbuhkan
motivasi instrinsik. Motivasi itu adalah dorongan yang datang dari dalam diri
anggota organisasi berupa kesadaran terhadap peranan dan pentingnya
pekerjaan/kegiatannya dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
Hasibuan (2007:170)
“Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan agar
mau bekerja sama dan bekerja secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan
organisasi”.
Sedangkan Dubrin
(2005:3) mengemukakan bahwa “Kepemimpinan itu adalah upaya mempengaruhi banyak
orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan, cara mempengaruhi orang dengan
petunjuk atau perintah”.
Menurut Siagian
(2004:72) bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi
orang lain (para bawahannya) sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau
melakukan kehendak pemimpin meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak
disenanginya”.
Menurut Winardi (2003 : 23) bahwa
“Kepemimpinan adalah hubungan dimana seseorang yakni
pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerjasama secara suka rela dalam
mengusahakan (mengerjakan) tugas-tugas yang berhubungan, untuk mencapai hal
yang diinginkan pemimpin tersebut. Pengertian ini menekankan pada kemampuan
seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar melakukan suatu kegiatan/pekerja”.
Stonner
(1996: 161) mendefinisikan “Kepemimpinan adalah suatu proses mengarahkan dan
mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok. Pendapat
ini dapat ditarik suatu pendapat bahwa kepemimpinan itu merupakan upaya dalam
mempengaruhi dan mengarahkan kelompok”.
Kepemimpinan
didefinisikan sebagai “Suatu
proses pengaruh sosial dimana pemimpin mengusahakan partisipasi sukarela dari
para bawahan dalam suatu usaha untuk mencapai tujuan organisasi (Kreitner dan
Kinicki, 2005: 299)
Menurut Wahyudi
(2006:3) bahwa, “Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan mendorong
sejumlah orang (dua orang atau lebih) agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
yang terarah pada tujuan bersama”. Struktur organisasi adalah kerangka atau
susunan unit atau satuan kerja atau fungsi-fungsi yang dijabarkan dari tugas
atau kegiatan pokok suatu organisasi, dalam usaha mencapai tujuannya. Setiap
unit mempunyai posisi masing-masing, sehingga ada unit yang berbeda jenjang
atau tingkatannya dan ada pula yang sama jenjang atau tingkatannya antara yang
satu dengan yang lain.
Selanjutnya
menurut Istianto (2009:87), ada beberapa definisi kepemimpinan yang dapat mewakili
tentang kepemimpinan, yaitu sebagai berikut :
1) Kepemimpinan adalah suatu kegiatan
dalam memimpin sedangkan pemimpin adalah orangnya yang memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut mengikuti apa yang
diinginkannya. Oleh karena itu pemimpin harus mampu mengatur dan mempengaruhi
orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
2) Kepemimpinan adalah dimana seorang
pemimpin harus mampu mengatur dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan
bersama.
3) Kepemimpinan merupakan subjek yang
penting di dalam manajemen dan ilmu administrasi karena kepemimpinan terkait
dengan hubungan antara atasan dan bawahan di dalam organisasi.
4) Kepemimpinan merupakan proses
berorientasi kepada manusia dan dapat diukur dari pengaruhnya terhadap perilaku
organisasi.
5) Kepemimpinan pemerintahan adalah sikap,
perilaku dan kegiatan pemimpin pemrintahan di pusat dan daerah dalam upaya
mencapai tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara.
Menurut George
R.Terry dalam bukunya Principle of Manajemen, edisi ke-6 tahun 1972 halaman 458
(dalam Sutarto, 2006;17) mengemukakan bahwa “ Leadership is the relation ship
in which one person or the leader, influences other to work togather willingly
on related tasks to attain that which the leader desires”.
Selanjutnya Richard
A.johnson, Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweig dalam bukunya The Theary and
Management of system (dalam Sutanto, 2006;17) mengemukakan bahwa “
Leadershipcan be broadly afined or the ability to influence the beharrior of
othee people”
Berdasarkan uraian
tersebut diatas, penulis kemukakan bahwa kepemimpinan atau leadership adalah
merupakan suatu proses mempengaruhi perilaku orang lain agar berperilaku
seperti yang akan dikehendaki. Selain itu kepemimpinan adalah sebagai kemampuan
seseorang dalam
mengerahkan, mempengaruhi, mendorong, mengendalikan orang lain atau bawahannya
untuk bisa melakukan suatu pekerjaan atas kesadarannya dan rasa sukarela dalam
mencapai suatu tujuan tertentu.
2.1.1.2.
Teori Kepemimpinan
Menurut Wursanto
(2002:197) teori kepemimpinan “ Adalah
bagaimana seseorang menjadi pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang
pemimpin.
Beberapa teori
tentang kepemimpinan yaitu:
1) Teori Kelebihan. Teori ini beranggapan
bahwa seorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para
pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
mencakup 3 hal yaitu kelebihan ratio, kelebihan rohaniah, kelebihan badaniah.
2) Teori Sifat. Teori ini menyatakan bahwa
seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang
positif sehingga para pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik, sifat-sifat
kepemimpinan yang umum misalnya bersifat adil, suka melindungi, penuh percaya
diri, penuh inisiatif, mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif
dan kreatif.
3) Teori Keturunan. Menurut teori ini,
seseorang dapat menjadi pemimpin karena keturunan atau warisan, karena
orangtuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin
menggantikan orangtuanya.
4) Teori Kharismatik. Teori ini menyatakan
bahwa seseorang menjadi pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma
(pengaruh yang sangat besar). Pemimpin ini biasanya memiliki daya tarik,
kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar
5) Teori Bakat. Teori ini disebut juga
teori ekologis, yang berpendapat bahwa pemimpin lahir karena bakatnya. Ia
menjadi pemimpin karena memang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat
kepemimpinan harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang
tersebut menduduki suatu jabatan.
6) Teori Sosial. Teori ini beranggapan
pada dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat
untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik
menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui
pendidikan formal maupun pengalaman praktek.
2.1.1.3.
Jenis dan Ciri Kepemimpinan
Menurut Friska
(2004:3) Jenis-jenis kepemimpinan meliputi kepemimpinan formal dan kepemimpinan
Informal yaitu.
Kepemimpinan
formal adalah kepemimpinan yang resmi yang diangkat dalam jabatan kepemimpinan.
Pola kepemimpinan tersebut terlihat pada berbagai ketentuan yang mengatur
hirarki dalam suatu organisasi. Kepemimpinan formal sering juga disebut dengan
istilah headship. Kepemimpinan formal tidak didasarkan pada pengangkatan. Jenis
kepemimpinan ini tidak terlihat pada struktur organisasi.
Selanjutnya
efektivitas kepemimpinan informal terlihat pada pengakuan nyata dan penerimaan
dalam praktek atas kepemimpinan seseorang. Biasanya kepemimpinan informal
didasarkan pada beberapa kriteria diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Kemampuan "memikat" hati
orang lain.
2) Kemampuan dalam membina hubungan yang
serasi dengan orang lain.
3) Penguasaan atas makna tujuan organisasi
yang hendak dicapai.
4) Penguasaan tentang implikasi-implikasi
pencapaian dalam kegiatan-kegiatan operasional.
5) Pemilihan atas keahlian tertentu yang
tidak dimiliki oleh orang lain.
Seorang pemimpin
harus mencapai sertama mempertahankan kepercayaan orang lain. Dengan sebuah
surat keputusan, maka seseorang dapat diberikan kekuasaan besar tetapi hal tersebut
tidak secara otomatis membuatnya menjadi seorang pemimpin dalam arti yang
sebenarnya. Di bawah ini akan dikemukakan perbedaan antara pemimpin dengan non
pemimpin.
1. Pemimpin:
a) Memberikan inspirasi kepada bawahan.
b) Menyelesaikan pekerjaan dan mengembangkan
bawahan.
c) Memberikan contoh kepada bawahan
bagaimana melakukan pekerjaan.
d) Menerima kewajiban-kewajiban.
e) Memperbaiki segala kesalahan atau
kekeliruan.
2) Non Pemimpin :
a) Memberikan dorongan kepada bawahan.
b) Menyelesaikan pekerjaan dan
mengorbankan bawahan.
c) Menanamkan perasaan takut pada bawahan
dan memberikan ancaman.
d) Melimpahkan kewajiban kepada orang
lain.
e) Melimpahkan kesalahan kepada orang lain
dengan apabila terdapat kekeliruan atau penyimpangan-penyimpangan.
2.1.1.4.
Fungsi Kepemimpinan
Fungsi kepemimpinan
berhubungan dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/ organisasi dimana
fungsi kepemimpinan harus diwujudkan dalam interaksi antar individu. Menurut
Rivai (2005:53) secara operasional fungsi pokok kepemimpinan dapat dibedakan
sebagai berikut:
1. Fungsi
Instruktif
Fungsi ini
bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak
yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan
agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif
memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau
melaksanakan perintah.
2. Fungsi
Konsultatif
Fungsi ini
bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan
keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan yang
mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai
mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan.
Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat
dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi
itu dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feedback) untuk
memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan
dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan
keputusan-keputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah
menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
3. Fungsi
Partisipasi
Dalam menjalankan
fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik
dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya.
Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara
terkendali dan terarah berupa kerjasama dengan tidak mencampuri atau mengambil
tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai
pemimpin dan bukan pelaksana.
4. Fungsi
Delegasi
Fungsi ini
dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan
keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan.
Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima
delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan
prinsip, persepsi dan aspirasi.
5. Fungsi
Pengendalian
Fungsi pengendalian
bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses/ efektif mampu mengatur aktivitas
anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian
ini dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan
pengawasan
Menurut Wahyudin
(2006:3), fungsi-fungsi kepemimpinan terdiri dari:
1) Fungsi instruktif.
Kemampuan dalam
memberikan perintah.
2) Fungsi konsultatif.
Kemampuan dalam
mengakomodir bawahan melalui media konsultasi.
3) Fungsi partisipasi.
Kemampuan
melibatkan diri bersama-sama bawahan dalam menyelesaikan pekerjaan.
4) Fungsi delegasi
Kemampuan dalam
memberikan delegasi antar masing-masing bawahan.
5) Fungsi pengendalian
Kemampuan pemimpin
dalam mengendalikan bawahan dalam penyelesaian tugas pekerjaan
2.1.1.5.
Teknik Kepemimpinan
Menurut Wursanto
(2002:207) dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Organisasi menjelaskan tentang teknik
kepemimpinan yaitu membicarakan bagaimana seorang pemimpin, menjalankan fungsi
kepemimpinanya yang terdiri dari:
1. Teknik Kepengikutan
Merupakan teknik
untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang menjadi kehendak si pemimpin.
Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi pengikut yaitu:
a. Kepengikutan karena peraturan/ hukum
yang berlaku
b. Kepengikutan karena agama
c. Kepengikutan karena tradisi atau naluri
d. Kepengikutan karena rasio
2. Teknik Human Relations
Merupakan hubungan
kemanusiaan yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan psikologis maupun
kepuasan jasmaniah. Teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan
berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis ataupun
jasmaniah.
3. Teknik Memberi Teladan, Semangat, dan
Dorongan
Dengan teknik ini
pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan, pemberi semangat, dan
pemberi dorongan. Dengan cara demikian diharapkan dapat memberikan pengertian
dan kesadaran kepada para bawahan sehingga mereka mau dan suka mengikuti apa
yang menjadi kehendak pemimpin
2.1.1.6.
Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan
merupakan perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba
mempengaruhi orang lain seperti yang ia lihat. Kebanyakan orang menganggap gaya
kepemimpinan merupakan tipe kepemimpinan. Hal ini antara lain dinyatakan oleh
Siagian (2004:14) bahwa gaya kepemimpinan seseorang adalah identik dengan tipe
kepemimpinan orang yang bersangkutan.
Gaya kepemimpinan
seorang pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, tempramen, watak, dan
kepribadian tersendiri yang unik dan khas, hingga tingkah laku dan gaya yang
membedakan dirinya dengan orang lain. Menurut Rivai (2005:122) ada tiga macam
gaya kepemimpinan yang mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai,
yaitu :
1) Gaya Kepemimpinan Otoriter
Gaya kepemimpinan
ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan
pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam
organisasi.
2) Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan
ini ditandai oleh adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan
pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan
demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan
mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
3) Gaya Kepemimpinan Kendali Bebas
Gaya kepemimpinan
ini memberikan kekuasaan penuh pada bawahan, struktur organisasi bersifat
longgar, pemimpin bersifat pasif. Peran utama pimpinan adalah menyediakan
materi pendukung dan berpartisipasi jika diminta bawahan.
Sedangkan menurut
Arep dan Tanjung (2003:94) ada empat macam gaya kepemimpinan yang lazim digunakan,
yaitu:
1) Kepemimpinan Demokrasi, adalah suatu
gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada kemampuan utnuk menciptakan
kepercayaan.
2) Kepemimpinan Diktator atau Otokrasi,
adalah suatu gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada kesanggupan untuk memaksakan
keinginannya yang mampu mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk mengumpulkan
kepentingan pribadinya dan atau golongannya dengan kesediaan untuk menerima
segala risiko apapun
3) Kepemimpinan Paternalistik, adalah
bentuk antara gaya demokrasi dan diktator. Yang pada dasarnya kehendak pemimpin
yang harus berlaku. Namun dengan jalan atau melalui unsur-unsur demokrasi.
4) Kepemimpinan Free Rein atau Laissez
Faire yakni salah satu gaya kepemimpinan yang 100% menyerahkan sepenuhnya
seluruh kebijaksanaan pengoperasian MSDM kepada bawahannya dengan hanya
berpegang kepada ketentuan pokok yang ditetapkan oleh atasan mereka. Pimpinan
disini hanya sekedar mengawasi dari atas dan menerima laporan kebijaksanaan
pengoperasian yang telah dilaksanakan oleh bawahannya.
Setelah mengetahui
berbagai gaya dan tipe kepemimpinan, maka pertanyaan yang akan timbul adalah
gaya kepemimpinan manakah yang lebih baik? Untuk menjawab pertanyaan ini memang
sulit, karena tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik untuk semua situasi. Ada
kalanya seorang pemimpin akan bergaya otoriter dalam situasi tertentu walaupun
ia sebenarnya adalah pemimpin yang sering bergaya demokratis.
Oleh karena itu,
dalam rangka mempersoalkan gaya-gaya kepemimpinan, kita hendaknya jangan
beranggapan bahwa seorang pemimpin harus tetap konsisten untuk mempertahankan
gaya kepemimpinan tertentu. Hal ini justru akan memperburuk keadaan organisasi
yang dipimpinnya, tetapi sebaliknya, harus bersifat fleksibel, yakni
menyesuaikan gayanya dengan situasi yang ada, kondisi dan individu dalam
organisasinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar